Home » Praktek Lapangan

Evaluasi Status Air Tanah di Petak Tersier dengan Konsep SEW-50 untuk Tanaman Kelapa Sawit di Lahan Rawa Pasang Surut

11 January 2010 2,914 views 2 Comments

CoverPLOleh Rieske Antita (Praktek Lapangan, Universitas Sriwijaya, 2004) dibimbing oleh Momon Sodik Imanuddin.

Laporan Praktek Lapangan ini berdasarkan hasil kajian dilapangan yang dilakukan di daerah rawa pasang surut bertujuan untuk: 1) mengevaluasi status air tanah di petak tersier, 2) membandingkan fluktuasi muka air tanah harian dengan pola tanam pada waktu musim hujan dan musim kemarau, 3) menganalisa pola tanam yang tepat menurut kondisi fluktuasi muka air dengan menggunakan konsep SEW-50.

Praktek lapangan ini dilaksanakan di daerah reklamasi rawa pasang surut Primer 6 Telang I di Desa Sumber Mulyo Kecamatan Muara Telang Kabupaten Banyuasin dari bulan Desember sampai Mei 2004.

Konsep Hidrotopografi membagi membagi lahan menjadi empat kelas lahan berdasarkan letak ketinggian relatif lahan terhadap ketergenangan air pada saat pasang. Atas dasar ini pula Desa Sumber Mulyo Telang I Primer 6 termasuk ke dalam kelas lahan dengan tipe B, yaitu tergenang dengan pasang besar dan tidak tergenang pada pasang kecil.

Konsep ini akan lebih sempurna apabila dilengkapi dengan data fluktuasi muka air tanah harian karena hidrotopgrafi hanya menggambarkan secara kualitatif status air yang ada di lahan. Selanjutnya akan lebih bermakna dalam menentukan pola tanam dan strategi pengelolaan air.

Hasil penelitian praktek lapangan ini menunjukkan bahwa Desa Sumber Mulyo di dominasi oleh lahan dengan tipe B. Sementara berdasarkan fluktuasi muka air tanah (November 2003 – Oktober 2004) terdapat variasi dari masing-masing petak tersier dalam satu petak sekunder yang sama. Musim hujan dan musim kemarau kadang susah ditebak, ini terbukti dengan hasil perolehan data curah hujan yang didapatkan tidak seperti yang dibayangkan.

Musim hujan yang diprediksi terjadi pada bulan Agustus – November tidak sama dengan data curah hujan yang ada. Curah hujan yang didapatkan terjadi pada bulan Juli di TC.4 berkisar 652 mm sedangkan di TC.12 berkisar 710 mm. Hal ini dapat membuktikan bahwa tingkat curah hujan yang didapatkan sangat beragam, yang dapat menyebabkan terjadinya pasang dan surutnya air sungai.

Pada awal pengamatan (November 2002) muka air tanah telah mengalami kenaikan, yakni musim hujan yang berakhir pada bulan April dimana muka air tanah setinggi sekitar 788 mm. Selanjutnya pada bulan Mei fluktuasi muka air tanah mengalami penurunan dengan muka air terendah berkisar antara 211,1 mm di bawah permukaan tanah dengan menggunakan konsep SEW-50.

Hasil pengamatan menunjukkan bahwa Desa Sumber Mulyo dengan hidrotopografi lahan tipe B, pola tanam yang umum diterapkan pada musim hujan dan musim kemarau adalah padi-padi. Desa Sumber Mulyo yang di dominasi oleh lahan tipe B memiliki pola tanam padi-pado sehingga pola tanam padi-padi diterapkan pada lahan usaha I dan lahan usaha II. Pada lahan yang tergolong tipe N ini Telang I juga dapat berpotensi untuk ditanami kelapa sawit setelah melihat kondisi yang telah ada.

1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading ... Loading ...

2 Comments »

  • Harun Rasidi said:

    I am arranging the thesis but minus reference book. Possible you can help me showing where I can get the books. Thank you can help me.

  • Harun Rasidi said:

    I am sorry….the book which mean is the book about one way flow system. Thank you.