Home » Praktek Lapangan

Pola Tanam dan Penggunaan Lahan Daerah Pasang Surut (Studi Kasus Sugihan Kiri)

11 January 2010 2,042 views No Comment

CoverPLOleh Handoko (Praktek Lapangan, Universitas Sriwijaya, 2000) dibimbing oleh M. Syamsul B. Alwie dan Robiyanto Hendro Susanto.

Laporan Praktik Lapang ini dibuat berdasarkan hasil pengamatan dan studi literatur yang bertujuan untuk mengadakan evaluasi data hasil pengamatan jumlah penduduk, pola tanam dan luas garapan dengan pendekatan deskriptif dalam rangka melihat karakteristik usaha tani dan pola penggunaan lahan petani sebagai akibat dorongan kebutuhan terhadap komoditas tanaman tahunan.

Metode yang digunakan dalam praktik lapang ini dilakukan dengan dua pendekatan, yaitu 1) Identifikasi masalah setempat (pendekatan lapangan) yang meliputi survai pengumpulan data fisik lingkungan dan observasi permasalahan yang ada, seperti jumlah kepada keluarga dalam hubungannya dengan pemanfaatan lahan dan pola tanam. 2) Pendekatan literatur (studi pustaka) yang berkaitan dengan potensi serta kendala pemanfaatan lahan pasang surut berdasarkan hasil survai (pendekatan lapangan.) Selanjutnya data yang diperoleh disajikan dalam bentuk tabel.

Berdasarkan hasil pengamatan dilapangan diperoleh data kondisi pola tanam dan luas garapan petani berdasarkan dua musim tanam yaitu musim penghujan dan musim kemarau serta data keluarga untuk masing-masing wilayah Jalur 13, 14 dan 16.

Hasil analisa data yang diperoleh memperlihatkan adanya keterkaitan antara jumlah penduduk terhadap luas garapan, baik musim penghujan maupun musim kemarau meskipun tidak menunjukkan pola yang nyata. Hal tersebut lebih disebabkan oleh adanya petani yang memiliki lahan usaha lebih dari 2 hektar. Wilayah jalur 13 dengan jumlah penduduk antara 240 hingga 485 jiwa perdesa mampu menggarap lahan antara 63 hingga 100 % (80 – 128 ha) dari total lahan 128 hektar.

Sedangkan untuk wilayah jalur 14 dan 16 memperlihatkan kecenderungan luas garapan yang hampir rata-rata 80 % (102 ha), meskipun ada beberapa desa yang luas garapannya kurang dari 64 hektar (50 %). Hal ini berarti kemampuan keluarga petani untuk membuka lahan atau memanfaatkan lahan usaha tani cukup memungkinkan asalkan jaminan biaya hidup selama pengolahan lahan dan menunggu hasil panen cukup terjamin.

Penggunaan lahan oleh petani berdasarkan hidro-topografi memperlihatkan pola penggunaan yang cukup beragam baik di tipe A, B maupun C. Wilayah jalur 13 dari keempat desa yang ada meskipun lahannya bertipe luapan A dan B akan tetapi pola penggunaan lahan petani telah mengarah ke komoditas tanaman tahunan.

Untuk wilayah jalur 14 dan 16 memperlihatkan bahwa lahan usaha I sebagian telah diusahakan dengan tanaman tahunan meskipun baru mencapai rata-rata 25 % (jalur 14) dan 22 % (jalur 16). Keadaan ini disebabkan pengolahan lahan usaha I lebih mudah karena letaknya dekat dengan pemukiman, sehingga kegiatan pemeliharaan dapat dilakukan dengan lebih intensif.

Untuk keamanan pangan petani dalam penataan lahannya menerapkan sawah tadah hujan dengan tegalan yang ditanami tanaman tahunan, sehingga setelah tanaman cukup tinggi dan menghasilkan, mereka mengolah lahan usaha II untuk komoditas tanaman semusim. Kendala yang ditimbulkan oleh kemasaman tanah sedikit banyak mampu diatasi melalui berbagai macam pendekatan pengelolaan tanah.

Pendekatan-pendekatan tersebut misalnya pembuatan surjan, membagi luasan lahan kedalam petakan-petakan kecil dengan membuat saluran keliling (saluran cacing) dan lain-lain sistem pengelolaan, akan tetapi kendala hama penyakit sering menjadi penyebab utama gagalnya usaha tani dari pra hingga pasca panen.

1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (1 votes, average: 3.00 out of 5)
Loading ... Loading ...

Comments are closed.