Home » News

Hentikan Penimbunan Rawa – Palembang Bisa Tenggelam

12 January 2010 2,304 views No Comment

Hujan yang sering mengguyur di Sumateral Selatan, khususnya di metropolis, sudah menjadi ancaman tersendiri bagi masyarakat. Apalagi curah hujan yang tinggi dalam beberapa jam berbarengan dengan pasangnya sungai Musi, dapat dipastikan membuat masyarakat khususnya yang bermukim di bantaran sungai tidak dapat tidur lelap.

Palembang-Banjir

Ahli hidrolisis Pusat Data Informasi Rawa dan Pesisir Sumatera Selatan, Ir. Momon Sodik Imanuddin, M.Sc., kepada koran ini mengatakan, saat ini diperkirakan hampir semua rawa-rawa di metropolis sudah ditimbun. Lahan itu ada yang digunakan untuk pembangunan ruko, gudang dan sebagainya.

“Misalnya di seberang kolam retensi RSI Siti Khodijah. Dulu kita melihat ada sedikit cekungan. Tapi sekarang ternyata sudah dibuat showroom. Begitu juga disepanjang kiri kanan Jl. Soekarno-Hatta yang dulunya rawa-rawa, banyak bangunan,” ungkap alumni Teknik Sumber Daya Air, Katolik Leuven University Belgium ini.

Momon-Sodik-Imanuddin

Momon – begitu biasa dipanggil – menjelaskan, jika penimbunan rawa terus dibiarkan, ancaman terhadap banjir semakin besar. Jika hujan jatuh pada tanah yang sudah padat atau tanah yang menjadi lapisan kedap air, maka dia berpotensi menjadi aliran permukaan. Sehingga lambat laun akan menjadi banjir. “Kalau semua areal lebih banyak padat daripada cekungnya, maka otomatis hujan yang turun di Kota Palembang semua berpotensi menjadi aliran permukaan, tidak ada yang tersimpan,” beber Momon.

“Katakanlah Palembang ini 70 persen sudah menjadi tanah padat. Artinya hujan air hujan yang turun 70 persen akan menjadi sumber banjir. Karena itu, dengan curah hujan 90 mm perjam dalam waktu dua jam itu sudah akan menimbulkan masalah banjir,” terang dia.

Selain akibat hujan, ungkap momon, banjir di metropolis juga dipengaruhi pasang surut Sungai Musi. Menurut dia, pasangnya Sungai Musi sebagai drainase utama tidak berfungsi. “Artinya, semua air yang mengalir di kota tidak bisa mengalir ke Musi karena air sungai Musi lebih tinggi. Akibatnya berbalik. Kenaikan air semakin cepat, disamping jika hujan, kita tidak punya cukup tempat menampung air karena kolam retensi yang ada belum berfungsi optimal,” tutur Momon seraya menambahkan, belum lagi ditambah persoalan drainase yang tertimbun sampah.

Karena itulah, menurut Momon, pemerintah harus cepat tanggap. Diantaranya dengan menginventerisir cekungan-cekungan atau rawa yang masih ada agar tidak diserobot pelaku pembangunan. Misalnya menggunakan foto satelit untuk mengetahui berapa rawa yang masih ada dan penimbunannya setiap tahun dengan metoda Geographic Information System (GIS). “Pemerintah mungkin juga bisa mengundang pakar dan stakeholder untuk menentukan langkah operasional dalam hal pembangunan di lahan rawa. Jangan sampai pembangunan terlalu drastis sehingga fungsi rawa-nya menjadi hilang,’ cetusnya.

Lantas, apakah dengan kondisi rawa yang hanya tinggal 30 -40 persen ini, banjir di metropolis masih bisa dihindari? Menurut Momon, banjir tidak bisa dihindari. Yang bisa dilakukan saat ini hanya pengendaliannya agar tidak meluas dan tidak tergenang terlalu lama. Ini bisa dilakukan dengan pendekatan teknis dan sosial.

Untuk teknis, Momon menjelaskan, dapat dilakukan pengerukan sampah di drainase, sehingga alira air lancar dan memperbanyak kolam retensi. “Sejak sekarang perlu diidentifikasi daerah mana untuk areal retensi, khususnya di daerah rawan banjir. Dareah itu harus secepatnya di enclave dan dibuat papan nama tidak boleh didirikan bangunan, karena akan dibangun kolam retensi,” kata pria yang juga menjadi dosen Jurusan Tanah di Fakultas Pertanian Unsri ini.

Pendekatan sosialnya, harus ada program intensif dari pemerintah, seperti penyuluhan kepada masyarakat,” tandasnya. Ada hal penting lainnya, menurut Momon, yang mungkin perlu diperhatikan pemerintah. Yakni sistem monitoring seperti pemasangan alat ukur otomatis untuk mengetahui ketinggian muka air (otomatic water level recorder). Alat itu dimasukkan ke dalam air dalam jangka waktu tertentu, diambil dimasukkan alat yang dihubungkan dengan komputer, dan hasilnya akan diketahui. “Kita sudah coba alat ini dilahan pasang surut. Kalau pemerintah mau bekerjasama, kita siap membantu,” cetus Momon.

(Sumber: Koran Sumatera Express, 18 Januari 2005)

1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading ... Loading ...

Comments are closed.