Home » News

Mari Bertani Semangka di Lahan Pasang Surut untuk Menciptakan Indek Pertanaman 300, Meningkatkan Pendapatan Petani dan Mencegah Kebakaran Lahan

29 December 2017 231 views No Comment

Pertanian rawa pasang surut masih terkendala sulitnya pengaturan air. Air sering tidak tersedia dalam jumlah, waktu dan tempat yang tepat. Namun melalui pengendalian di saluran tersier petani sudah bisa menciptakan kondisi lahan yang sesuai untuk pertumbuhan tanaman.

Peningkatan jaringan tata air di petak tersier dilakukan dengan pembuatan saluran cacing setiap 8m. Prinsip saluran drainase adalah dangkal (intensive shallow drainage) dengan lebar 100 cm dan kedalaman 20-25 cm. Pada akhir bulan Maret sudah dilakukan persiapan lahan. Saluran tersier dilengkapi dengan pintu kelep (fiber). Semangka di tanam pada bulan April 2015, pada kondisi kedalaman air tanah -25 cm.

Kebutuhan benih semangka untuk 1 ha adalah 24 bungkus x 1 Bungkus 20 gr = 480 gr. Adapun Jarak tanam adalah 70 cm antar tanaman x ± 600 cm antar baris. Untuk kebutuhan pupuk, diperlukan pupuk dasar yaitu pupuk kandang 100 karung. Ponska 1 ton. Mutiara 1 karung (50 kg) Aplikasi pemupukan dilarutkan dalam air lalu disiramkan.

Pengendalian hama pemyakit dilakukan dengan metode kimiawi yaitu pemberantasan hama Ulat menggunakan prepaton. Fungi menggunakan antracol. Sementara untuk Gulma di semprot herbisida atau di bakar dengan dilakukan pada pagi hari dan untuk gulma ketika tanaman sudah besar di cabut disekitar tanaman.

Operasi pintu air selama pertumbuhan tanaman semangka adalah drainase. Yaitu dengan melatakan pintu kelep di bagian muara tersier (mengahadap ke luar). Kondisi ini menyebabkan air pasang tidak bisa masuk dan air dari lahan bisa keluar memanfaatkan proses surut. Dorongan air pada saat surut akan membuka otomatis pintu kelep (Gambar 1).

Gambar 1

Gambar 1. Tata air mikro dan pintu air kelep operasi pembuangan pada budidaya semangka

Selama pertumbuhan tanaman muka air tanah berada dekat zona akar yaitu -20 sd -40 cm; kondisi relative baik, meskipun beberapa titik pengamatan jumlah ahri dimana air berada di bawah 20 cm relatif banyak. Kondisi ini karena curah hujan masih tinggi.

Gambar 2

Gambar 2. Dinamika muka air tanah pada iklim normal di Telang II Mulyasari 2016

Rata-rata produksi yang diperoleh petani adalah 20-25 ton/ha. Bila harga jual di tingkat petani adalah Rp. 2000/kg, maka petani mendapatkan uang Rp. 40.000.000 sd 50.000.000,-. Biaya produksi adalah untuk 1 hekar diperlukan 15.000.000,- sehingga keuntungan bersih petani berkisar Rp. 25.000.000 sd 30.000.000/ha. Keuntungan ini diperoleh hanya dalam waktu 3 bulan. Produksi masih rendah bila dibanding dengan lahan kering yang bisa mencapai 40 ton/ha.

Potensi peningkatan IP menjadi padi-semangka-jagung. Peningkatan IP ini bisa mencegah lahan dari bahaya kebakaran. Area yang pertaniannya maju tidak ada titik api pada saat kejadian Elnino. Mari ke rawa…..cintailah alam ini. Manusia sebagai Khalifah di muka bumi.

Gambar 3

1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading ... Loading ...

Comments are closed.